Mereka membuka kampung hijau. Hidup secara organik. Memenuhi kebutuhan sendiri. Dan, makmur.


Matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, meninggalkan rona kemerahan membias di cakrawala. Tsabitah berlari menghampiri bundanya, memamerkan gaun putihnya yang kotor terkena tanah. Bocah perempuan itu bersama adik dan belasan sepupunya baru saja kembali mencari tutut, sejenis keong kecil, di sawah. Dengan bangga ia bercerita mereka berhasil menangkap tutut sore itu. Setelah dimasak, dalam sekejap, tutut-tutut itu tandas, masuk ke perut mereka.

Tak puas hanya mencari tutut, sebelum mandi sore, Tsabitah kembali bermain air bersama Azam, adik lelakinya. Genangan air di atas hamparan rumput yang baru saja disiram air irigasi menjadi arena bermain yang menyenangkan. Mereka memekik kegirangan dan tergelak sambil berseluncur dan berlarian di hamparan rumput.

Begitulah aktivitas anak-anak penghuni "Kampung 99 Pepohonan". Orang sering menyebut kampung itu Kampung Rusa, karena di tempat ini terdapat lima ekor rusa jenis timorensis. Keseharian anak-anak di sini tak lepas dari alam, mulai dari menangkap ikan, menanam pohon, menanam padi, sayuran, dan membuat roti. Keluarga besar Bagas Kurniawan, 39 tahun, memang memfokuskan kegiatan anak-anak mereka bergulat dengan alam. Keluarga ini menjalankan konsep gaya hidup organik, kembali ke alam.

Di lahan seluas 5 hektar di Desa Meruyung, Cinere, Depok, Jawa Barat, ini sepanjang mata memandang yang tampak hanyalah deretan pepohonan dan rumah panggung dari kayu. Di antaranya pohon meranti, trembesi, ulin, menteng, gandaria, bintaro, kemang, bambu, dan mahoni.

Kicau burung dan suara binatang lain menambah harmoni komposisi alam. Membuat siapa pun yang datang enggan beranjak. Lahan hunian dengan basic farming dan botanical forest ini terbentang memanjang di antara dua sumber air yang tak pernah kering, kali irigasi yang sudah ada sejak zaman Belanda dan Sungai Pesanggrahan. Deretan pohon jati putih yang baru berusia 20 bulan di sekeliling kampung itu menambah keasrian dan kesejukan. Kontur tanah yang berjenjang menambah keindahan pemandangan kampung yang dihuni 10 keluarga ini.

Bagas tak pernah membayangkan lahan yang mulai mereka tanami sejak tahun 2002 itu akan menjadi areal hunian yang hijau, rindang, dan sejuk dalam waktu yang cepat. Pasalnya, ketika awal menanam, lahan ini adalah areal persawahan kritis yang gersang karena pestisida. "Petani kita kan maunya instan. Mereka semprotkan segala macam pestisida," katanya.

Selain itu, saluran irigasi untuk mengaliri sawah juga rusak berat. Tanahnya pun pecah-pecah. Pohon yang tumbuh di sana mulanya hanya tujuh batang, yaitu pohon rengas, jambu, dan mangga. Padahal, kata warga setempat, dulu kawasan ini merupakan bukit yang lebat. "Awalnya di sini panasnya mencapai 41 derajat celsius, " tambahnya.

Kegiatan menanam itu dilakukan seluruh keluarga yang sebelumnya berdomisili di Kebayoran Baru dan Bintaro, Jakarta Selatan. Hampir setiap hari mereka datang ke Meruyung untuk menanam dan beternak. Saluran irigasi yang rusak diperbaiki. Kolam-kolam pun mulai dibangun dan disi ikan patin, nila, bawal, dan gurami. Sawah-sawah mulai ditanami padi tanpa menggunakan pestisida. Gaya hidup organik mulai diterapkan.

Ternyata berhasil. Perlahan suhu udara di Kampung 99 Pepohonan turun. Kini pada malam hari suhu mencapai 14 derajat celsius. Menurut Bagas, itu berkat pohon jati putih. "Pohon jati putih ternyata bisa mengikat suhu dan melepaskan dalam bentuk cairan. Jadi, kalau kita ada di bawahnya akan melihat ada cairan menetes, makanya lembab," katanya.

"Kami dapatkan sesuatu di tanah yang semula gersang ini, yang tidak pernah kami bayangkan," kata sosiolog perekonomian ini.

Hunian yang ramah lingkungan dan terbuka kini mulai dibangun. Luas setiap rumah kayu yang dibangun tak lebih dari 100 meter persegi, tanpa pagar, dan dibangun bersama oleh seluruh penghuni Kampung 99 Pepohonan. Setiap keluarga mempunyai kolam penyangga untuk memelihara ikan atau ternak dan kebun minimal 100 meter persegi.

Kayu yang digunakan untuk membangun rumah bukanlah kayu yang mahal. Mereka menggunakan kayu yang mudah ditemukan di sekitar Meruyung. "Kami pakai kayu kampung. Di sini banyak perumahan, yang ketika membangunnya, developer melakukan land clearing tanah. Sebelum dibuldozer, tanaman itu kami bayar. Kami potong sendiri, belah, dan rendam 12 bulan di sungai biar awet," tutur Bagas.

Kampung 99 Pepohonan mulai dihuni pada tahun 2005. Menurut Teddy, adik Bagas, yang lebih sulit justru mengubah perilaku dan kebiasaan untuk menyesuaikan kehidupan alami di kampung ini. Dulu menanam pohon diprotes warga sekitar. "Warga sekitar takut ada ‘penunggunya'. Tapi dikasih pengertian bahwa pohon itu tujuannya untuk menguatkan tanggul kali irigasi," ujar pria berusia 33 tahun ini.

Ekosistem di kampung ini mulai membaik. Alhasil, binatang-binatang liar berdatangan, mulai dari kunang-kunang, tupai, ular, hingga biawak. Semua tumbuh dan berkembang di sini.
Bagas dan Teddy menjaga ekosisitem ini. Semua penghuni dilarang menebang pohon, memetik daun, membuang sampah sembarangan, apalagi sampah plastik. Agar lingkungan asri dan udara segar terus didapatkan, seluruh penghuni tidak merokok.

Kata Teddy, dulu hampir semua keluarganya perokok berat. Dia biasa menghabiskan lima bungkus rokok per hari. Karena tekad yang kuat mewujudkan hunian impian, mereka bersepakat berhenti merokok. Mereka tabung uang rokok untuk membangun rumah yang kini mereka tempati.

"Dulu saya tinggal di Bintaro. Saat liburan, bangun pagi anak-anak langsung menyetel teve, play satation, komputer atau pergi ke mal. Sehari-hari berinteraksi dengan alat. Jadi takut ketemu orang, social phobia. Mereka jadi manusia yang apatis," katanya.

Bukan hanya mengonsumsi semua makanan yang alami, mereka juga membangun hubungan sosial dengan pola baru. Hubungan antartetangga dibangun atas dasar keterbukaan dan kolektivisme. Teddy mencontohkan, untuk menjaga agar konservasi ekosistem yang mereka rancang tidak rusak, pembuangan limbah rumah tangga sangat diperhatikan. Dia merancang "sistem satu laundry, satu dapur, dan satu sumur". Kegiatan mencuci pakaian dipusatkan di rumah seorang penghuni yang dekat dengan Sungai Pesanggrahan. Memasak dilakukan dengan menggunakan kayu bakar yang diperoleh dari ranting atau dahan pohon yang berguguran dan dipusatkan di rumah penghuni lain yang gemar memasak.

Agar lebih hemat, mereka menjalankan sistem barter. "Kami tetap dapat nota bon dari yang laundry, yang laundry dapat bon dari yang masak. Jadi, kami bisa bayar bukan dalam bentuk uang, tapi mencuci baju. Itulah yang dibilang ekonomi barter,"ujar ayah tiga anak ini.

Agar air tanah tidak cepat habis, kampung ini hanya memiliki satu sumur. Dengan menara air yang cukup besar, air dialirkan ke sepuluh rumah, musala, dan kafe. Menyiram rumput dan tanaman tidak menggunakan air tanah, melainkan dengan air kali irigasi, untuk menghemat air tanah.

Kampung ini memproduksi sendiri seluruh kebutuhan pangan sehari-hari bagi penghuninya, seperti beras bebas, pupuk, roti tanpa pengawet, keju, susu, madu, sayur-mayur, yogurt, dan ikan. Setiap penghuni bebas mengembangkan ide, minat, dan potensi untuk membuat kehidupan di kampung kecil ini semakin lengkap. Pengembangan produk terus dilakukan. "Di sini kami diajak untuk hidup produktif. Semua yang menghuni di sini punya potensi masing-masing," kata Teddy. "Ada yang potensinya jago bikin roti, makanya kami punya pabrik roti. Ada yang jago mengolah ikan, maka kami punya peternakan ikan."

Para penghuni kampung ini bercita-cita menjadi komunitas mandiri. "Semua kebutuhan dipenuhi dari sini semua. Kalau kita mau makan sesuatu, ya tanam dulu. Mau makan ikan, ya pelihara ikan. Mau minum susu, ya ternak sapi," ujarnya.

Semua yang ada di Kampung 99 Pepohonan ini tak ada yang terbuang. Telur keong emas dan remah-remah sisa pembuatan roti dijadikan pallet untuk makanan ikan. Daun-daun untuk makanan rusa dan dijadikan kompos, yang kini selain dipakai sendiri juga sudah dijual. Ranting-ranting kayu untuk kayu bakar. Kotoran ternak dijadikan pupuk tanaman. Tulang-tulang ikan, ayam, bekas- makanan, dikumpulkan untuk makan ikan bawal. "Tidak ada yang terbuang, nggak ada yang mengendap," katanya.

Menurut Teddy, kini hasil Kampung 99 Pepohonan berlimpah, lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan para penghuninya. Produk seperti yogurt, beras, madu, cuka apel, ikan, dan sayuran sudah mulai dijual ke luar. Kegiatan menanam pun tak pernah berhenti. Setiap hari penghuni kampung ini menanam sepuluh pohon. Inovasi terus dikembangkan, mulai dari pembuatan cuka kelapa, hingga yogurt sukun. Juga memproses air irigasi untuk mandi agar pemakaian air tanah semakin berkurang. Mereka juga membuat pembangkit listrik tenaga kincir air. Warga kampung itu juga terbuka menerima penghuni baru yang ingin hidup secara organik. "Satu RT saja kayak gini. Jika diterapkan untuk seluruh Indonesia, kita pasti akan kaya. Kita nggak perlu impor lagi, sudah cukup. Kalau perlu malah ekspor," ujar Teddy. (E2)

Naskah ini dipublikasikan di situs VHRonline

0 comments:

Newer Post Older Post Home